Insights
Dresyamaya Fiona
•
8 Menit
MemBaca
•
Jul 14, 2026

Emas, perak, dan platinum seluruhnya mencapai rekor tertinggi sepanjang masa dalam minggu yang sama pada Januari 2026, sebelum kemudian mengembalikan sebagian besar kenaikan tersebut dalam beberapa bulan berikutnya.
Bagi trading desk atau portofolio institusional, lonjakan dan koreksi yang terjadi secara bersamaan tersebut menimbulkan pertanyaan yang lebih kompleks daripada sekadar apakah perlu memiliki emas. Pertanyaannya adalah seberapa besar eksposur logam mulia yang sesuai untuk portofolio yang terdiversifikasi, bagaimana eksposur tersebut dibagi di antara ketiga logam, serta instrumen apa yang digunakan.
Seiring pasar global terus menghadapi kekhawatiran inflasi, ketegangan geopolitik, dan perubahan lingkungan suku bunga, memahami peran logam mulia dalam strategi alokasi aset secara keseluruhan menjadi semakin penting.
Alokasi logam mulia mengacu pada porsi portofolio yang ditempatkan pada emas, perak, platinum, atau palladium, serta keputusan yang dibuat secara terencana mengenai bagaimana eksposur tersebut dibentuk.
Pada tingkat institusional atau trading desk, eksposur terhadap logam mulia biasanya diperoleh melalui kombinasi beberapa instrumen, antara lain:
Tujuan utama melakukan alokasi logam mulia adalah diversifikasi.
Emas, perak, dan platinum dipengaruhi oleh kombinasi faktor moneter, industri, dan sisi pasokan yang berbeda dibandingkan saham atau pendapatan tetap. Karena itu, logam mulia dapat bergerak secara berbeda ketika bagian lain dari portofolio berada di bawah tekanan.
Hal tersebut bukan berarti logam mulia selalu tidak berkorelasi dengan aset lainnya atau hubungan tersebut akan berlaku dalam setiap kondisi pasar. Namun, karakteristik inilah yang menjadi alasan utama mengapa logam mulia diperlakukan sebagai alokasi tersendiri, bukan sekadar tambahan dalam portofolio.
Daripada hanya mengandalkan saham dan obligasi, investor dapat mengalokasikan sebagian portofolionya pada logam mulia untuk membantu mengelola risiko dan mempertahankan nilai kekayaan dalam jangka panjang.
Baca Juga: Investasi Logam di Asia Tenggara: Mengapa Penting bagi Investor?
Alokasi aset merupakan proses membagi modal ke berbagai kelas aset untuk menyeimbangkan risiko dan imbal hasil. Logam mulia biasanya berada dalam kategori “alternatives”, karena memiliki karakteristik pergerakan yang tidak selalu mencerminkan saham atau obligasi.
Tahun 2026 menjadi gambaran yang cukup jelas mengenai alasan tersebut. Emas, perak, dan platinum semuanya mencapai rekor tertinggi sepanjang masa pada akhir Januari 2026, sebelum mengalami koreksi berkelanjutan sepanjang paruh pertama tahun tersebut.
Pada pertengahan Juli, penurunan baru terjadi setelah meningkatnya kembali ketegangan antara AS dan Iran. Hal tersebut bukan karena konflik mengurangi permintaan safe haven, melainkan karena lonjakan harga minyak yang dihasilkan kembali meningkatkan kekhawatiran inflasi dan mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga. Kondisi tersebut meningkatkan opportunity cost dari kepemilikan logam yang tidak menghasilkan pendapatan.
Banyak investor memasukkan logam mulia ke dalam strategi alokasi aset karena logam tersebut dapat memberikan:
Karakteristik tersebut membuat logam mulia menjadi salah satu pertimbangan penting bagi investor yang ingin memperluas diversifikasi portofolio.
Emas, perak, dan platinum sama-sama berada dalam kategori logam mulia, tetapi ketiganya tidak memiliki profil permintaan yang sama. Memperlakukan ketiga logam tersebut sebagai aset yang dapat dipertukarkan begitu saja dapat mengabaikan alasan mengapa masing-masing memiliki peran tersendiri dalam portofolio.
Emas merupakan logam yang paling likuid dan memiliki karakter moneter paling kuat di antara ketiga logam tersebut.
Emas diperdagangkan melalui pasar futures dan OTC yang dalam serta tersedia sepanjang waktu. Harganya terutama dipengaruhi oleh suku bunga riil, dolar AS, dan permintaan safe haven, bukan terutama oleh konsumsi industri.
Menurut Trading Economics, permintaan mendorong harga emas mencapai rekor tertinggi di atas US$5.595 per ons pada Januari 2026. Setelah itu, koreksi tajam membawa harga kembali ke kisaran US$4.000–US$4.200 pada pertengahan Juli, meskipun harga masih meningkat sekitar 20% secara tahunan setelah mengembalikan sebagian besar lonjakan pada Januari.
Ketika inflasi meningkat atau nilai mata uang melemah, investor sering meningkatkan eksposur terhadap emas sebagai langkah defensif. Reputasi emas sebagai penyimpan nilai dalam jangka panjang menjadikannya salah satu komponen umum dalam berbagai strategi alokasi logam mulia.
Perak memiliki karakter ganda yang tidak dimiliki emas. Selain permintaan investasi, perak merupakan bahan baku industri penting untuk panel surya, elektronik, dan kendaraan listrik.
Menurut Silver Institute, penggunaan industri diperkirakan mencakup lebih dari setengah total permintaan perak pada 2026, meskipun penggunaan perak per panel surya terus menurun.
Basis permintaan industri tersebut juga menjadi salah satu alasan pasar perak diperkirakan mengalami defisit pasokan untuk tahun keenam berturut-turut. Sebagian besar pasokan tambang perak berasal sebagai produk sampingan dari produksi timbal, seng, tembaga, dan emas, bukan sebagai respons langsung terhadap harga perak.
Pergerakan harga perak pada 2026 menjadi yang paling volatil di antara ketiga logam. Harga mencapai rekor tertinggi di atas US$115 per ons pada akhir Januari, kemudian terkoreksi menjadi sekitar US$58–US$61 pada pertengahan Juli, tetapi masih mencatat kenaikan lebih dari 50% secara tahunan menurut Trading Economics.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar perak yang lebih kecil dan relatif lebih tipis dapat memperbesar pergerakan harga ke kedua arah dibandingkan emas.
Platinum merupakan pasar terkecil dan memiliki eksposur industri paling tinggi di antara ketiga logam.
Afrika Selatan memasok sebagian besar produksi platinum dunia. Tambang yang menua, ketidakstabilan pasokan listrik, dan peningkatan biaya produksi telah membatasi output selama beberapa tahun. Sementara itu, tingkat daur ulang dari automotive catalytic converter bekas belum kembali ke level sebelum pandemi.
Data dari SD Bullion menunjukkan bahwa keterbatasan pasokan yang dikombinasikan dengan permintaan industri dan energi hijau mendorong harga platinum mencapai rekor tertinggi US$2.734,72 per ons pada Januari 2026.
Seperti emas dan perak, platinum kemudian mengalami koreksi tajam dan diperdagangkan di sekitar US$1.600 – US$1.650 pada pertengahan Juli, level terendah sejak November 2025. Meski demikian, harganya masih mencatat kenaikan sekitar 16% secara tahunan.
Tidak ada formula tetap untuk menentukan alokasi logam mulia. Besaran yang tepat bergantung pada mandat investasi, toleransi risiko, jangka waktu investasi, serta seberapa besar korelasi portofolio yang sudah ada terhadap risiko makro yang sama, seperti inflasi, suku bunga riil, dan mata uang.
Faktor-faktor yang umumnya dipertimbangkan oleh institusi dan trading desk ketika menentukan ukuran alokasi meliputi:
Strategi alokasi aset yang seimbang sebaiknya disesuaikan dengan tujuan keuangan investor secara keseluruhan, bukan hanya berfokus pada satu kelas aset.
Alokasi logam mulia yang ditentukan secara tepat dapat memberikan sejumlah manfaat struktural dalam portofolio yang lebih luas.
Emas, perak, dan platinum dipengaruhi oleh kombinasi kebijakan moneter, permintaan industri, dan keterbatasan pasokan yang berbeda dari saham atau obligasi. Karena itu, ketiganya tidak selalu bergerak dalam arah atau besaran yang sama dengan aset lainnya ketika pasar mengalami tekanan.
Gold is widely used as a hedge against currency debasement, since its supply can’t be expanded the way a money supply can. Many investors include precious metals in their asset allocation strategy because they are often viewed as a potential hedge against inflation and declining purchasing power.
Emas banyak digunakan sebagai lindung nilai terhadap penurunan nilai mata uang karena pasokannya tidak dapat diperluas dengan cara yang sama seperti jumlah uang beredar.
Banyak investor memasukkan logam mulia ke dalam strategi alokasi aset karena aset tersebut sering dipandang sebagai potensi lindung nilai terhadap inflasi dan penurunan daya beli.
Logam mulia memberikan eksposur terhadap tren permintaan global. Permintaan industri dan investasi dari berbagai negara dapat menciptakan peluang tambahan dalam pasar logam mulia.
Karakteristik tersebut menjelaskan mengapa logam mulia tetap menjadi pertimbangan dalam berbagai strategi investasi jangka panjang.
Logam mulia memiliki risiko nyata di samping manfaat diversifikasinya, dan pergerakan harga pada 2026 menunjukkan beberapa di antaranya secara langsung.
Baca juga: Permintaan Emas Indonesia dan Vietnam: Apa Pendorongnya?
Emas, perak, dan platinum menunjukkan sepanjang 2026 bahwa ketiganya tidak selalu bergerak bersama. Rekor tertinggi yang terjadi pada minggu yang sama di Januari kemudian diikuti oleh tiga jalur koreksi yang berbeda hingga pertengahan tahun, yang dipengaruhi oleh kebijakan bank sentral, permintaan industri, serta keterbatasan pasokan masing-masing logam.
Baik melalui emas, perak, platinum, maupun palladium, alokasi logam mulia memberikan peluang bagi investor untuk melakukan diversifikasi di luar kelas aset tradisional dan berpotensi meningkatkan ketahanan portofolio.
Bagi trader, investor institusional, dan broker yang sedang membangun atau meninjau kembali alokasinya, langkah berikutnya biasanya adalah memilih instrumen yang sesuai dengan kebutuhan likuiditas dan profil risiko posisi.
Jelajahi Kontrak Komoditas ACM untuk mendapatkan eksposur terhadap emas, perak, dan platinum, atau lihat Keanggotaan ACM untuk memahami bagaimana institusi dan broker dapat mengakses pasar tersebut secara langsung.