Insights

Investasi Logam di Asia Tenggara: Mengapa Penting bagi Investor?

Arta Anindita

8 Menit

MemBaca

Aug 5, 2026

Pasar logam mulia di Asia Tenggara terus berkembang seiring pertumbuhan ekonomi regional dan meningkatnya peluang investasi. Memahami tren pasar serta karakteristik emas, perak, dan platinum menjadi penting bagi investor yang mempertimbangkan investasi logam di Asia Tenggara.

Commodities

Metals

investasi-logam-asia-tenggara

Menurut World Gold Council, pada kuartal pertama 2026, bank sentral Indonesia dan Malaysia untuk pertama kalinya dalam sejarah institusional mereka melakukan pembelian emas. Kamboja juga termasuk dalam kelompok negara yang mulai menjadi pembeli emas resmi.

Bagi manajer portofolio dan investor di Asia Tenggara, meningkatnya minat terhadap emas menunjukkan bahwa sejumlah institusi mulai melihat emas sebagai aset strategis, bukan sekadar lindung nilai. Karakteristik emas dan perak yang tidak memiliki risiko pihak lawan serta korelasi rendah dengan aset lain membuatnya menarik saat tekanan mata uang, inflasi, dan ketidakpastian meningkat. Namun, kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang.

Mengapa Investasi Logam di Asia Tenggara Penting?

Asia Tenggara merupakan salah satu kawasan dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia. Namun, pertumbuhan tersebut juga disertai berbagai tantangan, seperti inflasi, ketegangan geopolitik, dan depresiasi mata uang yang dapat mempengaruhi imbal hasil investasi.

Emas semakin menarik karena memiliki beberapa karakteristik:

  • Dapat menjadi lindung nilai terhadap inflasi
  • Dapat berfungsi sebagai penyimpan nilai ketika pasar mengalami ketidakpastian
  • Memiliki korelasi yang lebih rendah dengan saham dan obligasi
  • Mudah dikenali dan diperdagangkan di pasar global
  • Didukung oleh infrastruktur pasar yang semakin berkembang di kawasan

Bagi investor institusional, alasan untuk memiliki emas seringkali berkaitan dengan real yield, yaitu tingkat imbal hasil obligasi pemerintah setelah dikurangi inflasi.

Ketika Consumer Price Index meningkat sementara imbal hasil nominal tidak mengikuti kenaikan tersebut, real yield akan turun. Dalam kondisi tersebut, biaya peluang untuk memegang aset tanpa imbal hasil seperti emas menjadi lebih rendah.

Hubungan tersebut menjadi salah satu alasan komoditas semakin digunakan sebagai alokasi portofolio taktis. Investor dapat meningkatkan eksposur ketika data makro menunjukkan meningkatnya risiko inflasi dan menguranginya ketika kondisi tersebut mulai mereda.

Laporan Gold Demand Trends World Gold Council untuk kuartal kedua 2026 menunjukkan besarnya perkembangan tersebut. Bank sentral menambahkan 289 ton emas ke cadangan global pada kuartal tersebut, sementara nilai permintaan emas pada paruh pertama 2026 mencapai rekor US$380 miliar.

Baca Juga: Apa Itu Investasi Berkelanjutan di Pasar Global?

Indonesia: Perkembangan Ritel Hingga Alokasi Strategis

Permintaan emas batangan dan koin di Indonesia meningkat 40% secara tahunan pada kuartal kedua 2026 menjadi sekitar 15 ton. Menurut data World Gold Council, angka tersebut menjadi salah satu pertumbuhan terkuat di pasar investasi emas global.

Yang menarik, peningkatan tersebut terjadi meskipun harga emas global telah turun dari rekor tertingginya pada Januari. Ketika pembelian tetap bertahan saat harga mengalami penurunan, kondisi tersebut dapat menunjukkan adanya keyakinan jangka panjang, bukan sekadar aktivitas mengejar momentum harga.

Sejumlah faktor terus mendorong permintaan emas di Indonesia:

  • Depresiasi rupiah terhadap mata uang utama
  • Kekhawatiran terhadap inflasi
  • Meningkatnya kesadaran mengenai diversifikasi portofolio
  • Akses yang semakin mudah melalui platform investasi digital
  • Pergeseran pandangan terhadap emas sebagai aset strategis jangka panjang, bukan sekadar instrumen perdagangan jangka pendek

World Gold Council melihat adanya perubahan perilaku di balik perkembangan tersebut. Semakin banyak investor dan institusi Indonesia mulai memperlakukan emas sebagai aset strategis jangka panjang yang berkaitan dengan pelemahan rupiah dan ketidakpastian prospek pertumbuhan domestik.

Indonesia juga termasuk salah satu negara yang untuk pertama kalinya tercatat sebagai pembeli emas resmi dalam laporan World Gold Council kuartal pertama 2026.

Vietnam: Pasar dalam Masa Transisi

Vietnam memiliki salah satu tradisi kepemilikan emas terkuat di Asia. Emas dipandang sebagai penyimpan kekayaan yang andal bagi keluarga dan investor jangka panjang.

Selama bertahun-tahun, permintaan emas menghadapi hambatan akibat pembatasan impor emas batangan, yang membuat harga SJC domestik berada 12–20% di atas harga spot internasional. Sejak pertengahan 2024, sejumlah bank besar milik negara mulai menjual emas SJC secara langsung, sehingga selisih harga domestik dan internasional mulai menyempit pada awal 2026.

Meski demikian, permintaan emas tetap kuat. Bagi masyarakat Vietnam, emas bukan sekadar soal harga, tetapi juga aset yang dipercaya untuk menjaga kekayaan di tengah depresiasi mata uang, krisis perbankan, dan perubahan kebijakan.

Singapura: Pusat Infrastruktur Emas Institusional Regional

Indonesia dan Vietnam menunjukkan sisi permintaan pasar. Sementara itu, Singapura sedang membangun infrastruktur dari sisi penawaran untuk mendukung pertumbuhan tersebut.

Pada Maret 2026, Monetary Authority of Singapore dan Singapore Bullion Market Association menyusun rencana untuk memperkuat posisi Singapura sebagai pusat perdagangan emas yang terpercaya di kawasan Asia Pasifik.

Rencana tersebut mencakup:

  • Penyimpanan emas fisik
  • Produk pasar modal
  • Over the counter clearing
  • Layanan penyimpanan emas bagi bank sentral

Singapore Exchange juga diperkirakan meluncurkan platform OTC clearing untuk emas Loco-Singapore pada akhir 2026. Platform tersebut akan didukung oleh sejumlah anggota clearing, termasuk DBS, OCBC, UOB, Deutsche Bank, ICBC Standard Bank, dan J.P. Morgan.

MAS juga dijadwalkan mulai menawarkan layanan penyimpanan emas bagi bank sentral asing pada Oktober 2026.

Berbeda dengan pasar Indonesia dan Vietnam yang lebih berorientasi domestik dan dekat dengan investor ritel, pengembangan Singapura secara khusus diarahkan untuk kebutuhan institusional. Targetnya mencakup bank sentral dan family office yang membutuhkan infrastruktur penyimpanan dan perdagangan yang netral secara politik serta memiliki regulasi yang kuat.

Bagi investor institusional dan B2B yang mempertimbangkan investasi logam di Asia Tenggara, kombinasi antara pertumbuhan permintaan institusional di Indonesia dan Vietnam serta infrastruktur pasar di Singapura membuat perkembangan logam mulia kawasan ini menjadi lebih dari sekadar cerita mengenai lindung nilai mata uang.

Mengapa Logam Mulia Penting bagi Portofolio Institusional?

Logam mulia memiliki tempat dalam portofolio institusional karena beberapa alasan yang lebih spesifik daripada sekadar narasi investasi ritel.

1. Perlindungan terhadap Inflasi

Perlindungan terhadap inflasi sebenarnya lebih berkaitan dengan real yield daripada sekadar tingkat inflasi.

Emas cenderung menunjukkan kinerja yang lebih baik ketika inflasi meningkat lebih cepat dibandingkan suku bunga nominal, bukan hanya ketika inflasi berada pada level tinggi.

2. Diversifikasi Portofolio

Penelitian akademis mengenai komoditas sebagai kelas aset secara umum mendukung pendekatan alokasi taktis, bukan alokasi permanen.

Artinya, ukuran alokasi dapat disesuaikan berdasarkan kondisi makroekonomi. Korelasi emas yang rendah terhadap saham dan obligasi menjadi salah satu mekanisme utama yang mendukung manfaat diversifikasi tersebut.

Salah satu acuan institusional yang banyak digunakan menempatkan alokasi emas sekitar 5% hingga 15% dari portofolio berbasis dolar AS. Namun, angka yang tepat tetap bergantung pada mandat investasi dan tingkat toleransi risiko masing-masing investor.

3. Likuiditas Global

Likuiditas menjadi faktor penting, terutama bagi investor institusional yang melakukan transaksi dalam ukuran besar.

Pengembangan infrastruktur OTC clearing di Singapura secara khusus dirancang untuk menjawab kebutuhan tersebut. Namun, tingkat likuiditas tetap berbeda berdasarkan jenis logam dan instrumen yang digunakan.

Risiko yang Perlu Dipertimbangkan Investor

Meskipun logam mulia menawarkan sejumlah manfaat, aset ini tidak dapat dianggap sebagai investasi tanpa risiko.

Beberapa risiko yang perlu diperhatikan meliputi:

  • Harga dapat mengalami fluktuasi signifikan dalam jangka pendek
  • Emas tidak menghasilkan dividen maupun bunga
  • Penyimpanan fisik dan asuransi dapat menambah biaya
  • Kinerja dapat tertinggal dibandingkan saham ketika ekonomi mengalami ekspansi yang kuat

Karena alasan tersebut, logam mulia umumnya digunakan sebagai salah satu komponen dalam portofolio yang terdiversifikasi, bukan sebagai satu-satunya instrumen investasi.

Apakah Perak Layak Dipertimbangkan?

WMeskipun emas mendapatkan sebagian besar perhatian, perak juga memiliki karakteristik yang menarik.

Perak memiliki permintaan dari sektor industri sekaligus investasi, terutama untuk energi terbarukan, elektronik, dan manufaktur. Karena memiliki berbagai aplikasi industri, harga perak dapat lebih volatil dibandingkan emas, tetapi juga berpotensi memperoleh manfaat dari meningkatnya kebutuhan teknologi.

Investor yang mencari potensi pertumbuhan lebih tinggi dapat mengalokasikan sebagian kecil portofolio logam mulia ke perak, sementara emas tetap digunakan sebagai aset defensif utama.

Baca Juga: 5 Cara Berinvestasi di Energi Terbarukan Secara Efektif

Kesimpulan

Perkembangan investasi logam mulia Asia Tenggara pada 2026 kini tidak lagi sekadar tentang pelemahan mata uang. Indonesia semakin melihat emas sebagai aset strategis, Vietnam tengah menjalani reformasi struktural, sementara Singapura terus membangun infrastruktur pasar emas institusional. Ketiganya menunjukkan bahwa kawasan ini semakin memperkuat akses dan partisipasinya di pasar logam mulia.

Bagi investor institusional dan B2B, pertanyaan yang lebih relevan bukan hanya apakah perlu memiliki emas atau perak, tetapi berapa besar alokasi yang sesuai, instrumen apa yang digunakan, dan yurisdiksi mana yang paling tepat.

Dengan memahami dinamika tersebut, investasi logam di Asia Tenggara dapat ditempatkan secara lebih strategis dalam portofolio yang lebih luas.

Arta Anindita

Mulai Trading Hari ini bersama ACM

Cari tahu di sini

NEWSLETTER

Langganan Informasi Terkini

Bergabunglah dengan komunitas profesional komoditas dan nikmati informasi terkini, berita penting, serta analisis mendalam yang dikirim langsung melalui email.

Thank you! You've successfully subscribed to our mailing list.
Oops! Something went wrong there. Please try again later.