Insights
Dresyamaya Fiona
•
8 Menit
MemBaca
•
Aug 7, 2026

Indonesia dan Vietnam merupakan pasar penting dalam lanskap logam mulia di Asia Tenggara. Permintaan emas di Indonesia dan Vietnam dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi, partisipasi investor, kebutuhan konsumen, serta perkembangan pasar keuangan, sehingga memberikan gambaran penting mengenai tren dan perilaku pasar di kawasan.
Permintaan emas di kawasan tetap kuat meskipun harga global berada di level tinggi, mencerminkan perannya sebagai investasi jangka panjang dan penyimpan nilai. Di berbagai pasar seperti Indonesia, Vietnam, Thailand, dan Singapura, emas juga semakin dipandang sebagai bagian strategis dari portofolio yang terdiversifikasi, didukung oleh permintaan institusional dan semakin beragamnya produk investasi.
Permintaan emas di Indonesia dan Vietnam telah lama didukung oleh kombinasi faktor investasi, tradisi budaya, dan kondisi ekonomi. Berdasarkan World Gold Council (WGC), Indonesia, Thailand, Vietnam, dan Singapura termasuk di antara pasar emas penting di Asia, yang berkontribusi terhadap permintaan regional untuk emas batangan, koin, perhiasan, dan berbagai produk investasi.
Berbeda dengan banyak aset keuangan yang sangat dipengaruhi oleh sentimen pasar jangka pendek, emas sering kali dibeli dengan perspektif jangka panjang. Investor di kawasan Asia Tenggara umumnya menggunakan emas untuk mempertahankan nilai kekayaan, melakukan diversifikasi portofolio, serta menghadapi ketidakpastian finansial.
Seiring pertumbuhan kelas menengah di Asia Tenggara dan semakin mudahnya akses terhadap pasar keuangan, permintaan terhadap logam mulia untuk investasi diperkirakan akan tetap kuat.
Baca juga: Apa Itu Investasi Berkelanjutan di Pasar Global?
Vietnam merupakan salah satu pasar emas utama di Asia Tenggara, didukung oleh permintaan konsumen yang kuat dan preferensi yang telah lama terbentuk terhadap emas fisik sebagai penyimpan nilai dan sarana mempertahankan kekayaan.
Seiring pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap investasi, emas juga semakin dipandang sebagai instrumen diversifikasi portofolio, khususnya dalam menghadapi ketidakpastian pasar dan tekanan inflasi.
Dengan basis investor yang terus berkembang serta partisipasi yang semakin besar dalam pasar keuangan regional, Vietnam diperkirakan akan tetap menjadi salah satu pasar penting bagi logam mulia dan turut mendukung pertumbuhan permintaan emas di Asia Tenggara.
Menurut World Gold Council, permintaan emas global tetap stabil pada 1.269 ton pada kuartal kedua 2026. Dengan demikian, total permintaan pada paruh pertama tahun ini mencapai 2.522 ton, meningkat 2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Nilai total permintaan emas mencapai rekor US$380 miliar, didukung oleh tingginya harga emas. Investasi dalam bentuk emas batangan dan koin tetap stabil, sementara bank sentral terus meningkatkan cadangan emas mereka.
Harga emas yang tinggi dan inflasi yang masih berlangsung turut memengaruhi perilaku konsumen. Permintaan perhiasan turun menjadi 278 ton, level terendah sejak pandemi, karena harga yang semakin tinggi membuat emas menjadi lebih sulit dijangkau oleh konsumen.
Namun, nilai pembelian perhiasan emas meningkat 14% secara tahunan menjadi US$40 miliar. Meski volume pembelian menurun, konsumen tetap membelanjakan lebih banyak akibat kenaikan harga emas.
Permintaan dari sektor teknologi juga mengalami sedikit peningkatan, didorong oleh meningkatnya penggunaan emas untuk aplikasi terkait kecerdasan buatan (AI), meskipun penjualan elektronik konsumen melemah.
Sejumlah tren utama terus mendukung permintaan emas di Indonesia dan Vietnam, serta di kawasan Asia Tenggara secara lebih luas.
Emas tetap menjadi salah satu aset pilihan masyarakat di kawasan ini untuk mempertahankan nilai kekayaan dari generasi ke generasi.
Berbeda dengan investasi yang terutama berorientasi pada apresiasi modal, emas sering dipandang sebagai penyimpan nilai yang dapat membantu mempertahankan daya beli dalam jangka panjang. Perspektif jangka panjang ini membantu menjelaskan mengapa investor tetap membeli emas meskipun harganya mencapai level tertinggi baru.
Meskipun inflasi telah mereda di sejumlah negara, ketidakpastian terhadap stabilitas harga masih memengaruhi keputusan investasi. Dalam kondisi ekonomi yang sulit diprediksi, emas tetap banyak digunakan sebagai instrumen diversifikasi portofolio dan lindung nilai terhadap inflasi.
Banyak investor di Asia Tenggara menggunakan emas untuk mengurangi ketergantungan pada satu mata uang. Karena diperdagangkan secara global dalam dolar AS, emas dapat membantu diversifikasi portofolio dan mengurangi dampak volatilitas nilai tukar.
Cara investor mengakses emas telah mengalami perubahan yang signifikan.
Meskipun emas fisik tetap populer, investor saat ini juga dapat memperoleh eksposur terhadap emas melalui:
Akses yang semakin luas tersebut meningkatkan partisipasi investor ritel maupun institusional dan turut mendukung pertumbuhan pasar secara berkelanjutan.
Meskipun prospek permintaan jangka panjang masih positif, harga emas tetap merespons perubahan kondisi pasar.
Investor perlu memperhatikan sejumlah faktor penting, antara lain:
These indicators can significantly influence both investor sentiment and precious metals prices over time.
Baca juga: Investasi Komoditas untuk Ketahanan Portofolio
Prospek permintaan emas di Asia Tenggara tetap didukung oleh fundamental yang kuat, termasuk pertumbuhan jumlah investor, akses yang semakin luas terhadap produk investasi, serta permintaan institusional dan global yang berkelanjutan.
Meskipun harga emas dapat berfluktuasi dalam jangka pendek, faktor-faktor tersebut menunjukkan bahwa emas akan tetap menjadi bagian penting dari portofolio yang terdiversifikasi. Memahami dinamika permintaan regional juga dapat membantu investor melihat tren dan peluang yang lebih luas di pasar komoditas global.
Permintaan emas di Indonesia dan Vietnam terus didukung oleh kombinasi faktor ekonomi, investasi, dan budaya. Emas tidak hanya dipandang sebagai aset untuk mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga, tetapi juga sebagai instrumen untuk mempertahankan nilai kekayaan dan melakukan diversifikasi portofolio.
Di tengah harga emas yang tinggi, perubahan pola pembelian menunjukkan bahwa minat terhadap emas tetap kuat. Pertumbuhan kelas menengah, meningkatnya akses terhadap produk investasi, serta perkembangan pasar keuangan turut membuka peluang bagi semakin banyak investor untuk memperoleh eksposur terhadap emas.
Bagi investor, memahami permintaan emas di Indonesia dan Vietnam serta faktor-faktor yang memengaruhinya dapat membantu memberikan perspektif yang lebih baik terhadap perkembangan pasar logam mulia di Asia Tenggara.
Emas akan tetap menjadi bagian penting dari pasar keuangan global. Dengan memahami tren permintaan, kondisi ekonomi, dan perkembangan pasar, investor dapat menilai peluang serta risiko di sektor logam mulia dengan lebih baik.