Insights
Dresyamaya Fiona
•
8 Menit
MemBaca
•
Aug 14, 2026

Pasar global pada 2026 dipengaruhi oleh dua kekuatan utama: investasi teknologi yang mendorong pertumbuhan dan guncangan energi akibat konflik di Timur Tengah. Kondisi ini membuat pemahaman terhadap tren pasar 2026 penting bagi investor dalam menentukan strategi.
Di balik volatilitas, faktor seperti pertumbuhan ekonomi, komoditas, kebijakan moneter, transisi energi, dan perdagangan internasional menjadi penggerak utama yang perlu diperhatikan.
Proyeksi terbaru IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,0% pada 2026, melambat dari rata-rata 3,5% pada 2024–2025. Pertumbuhan kemudian diproyeksikan kembali meningkat menjadi 3,4% pada 2027 seiring meredanya guncangan energi tahun ini.
Departemen Riset IMF menggambarkan 2026 sebagai kondisi tarik-menarik antara dua kekuatan. Konflik di Timur Tengah memberikan tekanan terhadap pertumbuhan melalui dampak energi, sementara investasi terkait kecerdasan buatan (AI) yang sangat kuat memberikan dorongan dari arah berlawanan.
Pembaruan IMF pada Juli memperkirakan pertumbuhan ekonomi AS mencapai 2,3% tahun ini, tertinggi di antara negara maju utama, didorong oleh tingginya investasi infrastruktur AI. Sementara itu, pertumbuhan di kawasan Euro (0,9%), Inggris (1,0%), Kanada (1,1%), dan Jepang (0,6%) lebih lambat karena dampak guncangan energi dan manfaat investasi AI yang lebih terbatas.
Bagi investor institusional dan perusahaan pialang, yang penting bukan hanya melihat apakah pertumbuhan ekonomi positif atau negatif. Perbedaan dampak investasi AI dan guncangan energi di tiap wilayah dan sektor akan turut menentukan strategi pasar hingga akhir 2026.
Berdasarkan laporan World Energy Investment 2026 dari IEA, investasi energi global diperkirakan mencapai US$3,4 triliun pada 2026, naik 5% dari 2025. Sekitar US$2,2 triliun dialokasikan untuk energi bersih, hampir dua kali lipat investasi pada minyak, gas, dan batu bara sebesar US$1,2 triliun.
Investasi tenaga surya diperkirakan melampaui US$500 miliar, sementara pertumbuhan energi terbarukan, kendaraan listrik, baterai, dan jaringan listrik terus mendorong permintaan bahan baku seperti tembaga, litium, dan perak.
Transisi energi kini menjadi penggerak utama investasi global dan turut membentuk permintaan terhadap logam industri maupun logam mulia.
Logam industri berpotensi mendapat dorongan dari pembangunan infrastruktur dan manufaktur, sementara logam mulia tetap diminati di tengah ketidakpastian ekonomi. Komoditas pertanian juga relatif stabil berkat permintaan pangan global.
Menurut World Bank Commodity Markets Outlook, harga komoditas global diproyeksikan naik 16% pada 2026, terutama didorong oleh energi dan pupuk. Logam mulia menjadi salah satu yang berkinerja kuat, dengan emas, platinum, dan perak mencapai rekor harga pada Januari 2026. Indeks logam mulia World Bank bahkan diproyeksikan meningkat 42% sepanjang tahun.
Secara keseluruhan, dinamika permintaan ini menjadikan pasar komoditas salah satu area yang menarik untuk diperhatikan investor pada tren pasar 2026.
Baca juga: Peluang Investasi Komoditas Agrikultur di Indonesia
Dinamika penawaran dan permintaan juga sangat penting dalam memahami bagaimana komoditas merespons kebijakan moneter. Tahun 2026 menghadirkan perubahan yang cukup signifikan dalam hal ini. Memasuki awal tahun, pasar memperkirakan Federal Reserve (The Fed) akan terus menurunkan suku bunga.
Salah satu faktor utamanya adalah inflasi. Guncangan energi akibat konflik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga pada saat The Fed sebelumnya diperkirakan akan terus melonggarkan kebijakan moneternya.
Dalam pertemuan The Fed pada Juni, sembilan dari 18 pejabat memproyeksikan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun. Sebagai perbandingan, hanya satu pejabat yang masih memperkirakan adanya penurunan suku bunga.
Namun, tidak semua pihak memperkirakan kenaikan suku bunga sebagai skenario utama. Tim riset Morgan Stanley, misalnya, masih memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga hingga akhir 2026, dengan kemungkinan penurunan kembali pada 2027.
Selain kebijakan moneter, faktor keberlanjutan dan ESG terus memengaruhi alokasi modal pada 2026. Perusahaan semakin berinvestasi dalam produksi yang lebih bersih, efisiensi sumber daya, dan ketahanan rantai pasok untuk memenuhi regulasi serta perubahan ekspektasi pasar.
Bagi investor institusional dan perusahaan pialang, faktor-faktor tersebut kini semakin dipandang sebagai bagian dari manajemen risiko dan penilaian kinerja jangka panjang.
Teknologi, khususnya kecerdasan buatan, menjadi salah satu pendorong penting ekonomi global pada 2026. Menurut WTO, produk terkait AI seperti semikonduktor, server, dan peralatan telekomunikasi menyumbang hampir setengah dari pertumbuhan perdagangan barang global pada 2025.
Selain mendorong investasi, AI, otomatisasi, komputasi awan, dan analitik data juga membantu perusahaan meningkatkan efisiensi operasional dan kualitas pengambilan keputusan. Keberlanjutan momentum investasi ini akan menjadi salah satu faktor penting untuk dipantau sepanjang 2026.
Pasar keuangan juga memperoleh manfaat secara langsung melalui platform perdagangan yang lebih cepat, akses informasi pasar yang lebih cepat, serta perangkat manajemen risiko yang semakin canggih. Infrastruktur tersebut semakin menjadi bagian penting bagi institutional trading desk dan perusahaan pialang.
Produk-produk yang berkaitan dengan AI menjadi salah satu faktor yang membuat perdagangan global tetap bertahan dengan cukup baik pada tahun sebelumnya. Namun, momentumnya mulai berubah.
WTO memperkirakan pertumbuhan perdagangan barang global akan melambat menjadi sekitar 1,9% pada 2026, turun dari 4,6% pada 2025. Perlambatan ini terjadi seiring normalisasi tariff front running dan lonjakan perdagangan yang berkaitan dengan AI pada tahun sebelumnya. Sementara itu, perdagangan jasa diperkirakan tetap lebih kuat dengan pertumbuhan sekitar 4,8% sepanjang tahun.
Pelaku usaha memperkuat ketahanan melalui diversifikasi pemasok, kemitraan regional, dan penguatan jaringan logistik. Meski tidak sepenuhnya mengatasi perlambatan ekonomi, langkah ini dapat meningkatkan fleksibilitas jangka menengah.
Kelancaran arus perdagangan juga tetap penting untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan global, terutama di tengah meningkatnya perhatian terhadap jalur strategis seperti Selat Hormuz.
Meskipun setiap pasar merespons perkembangan tersebut secara berbeda, terdapat beberapa tema utama yang muncul dari ketujuh tren pasar di 2026:
Daripada bereaksi terhadap satu berita atau indikator tertentu, memahami faktor-faktor yang lebih luas tersebut dapat membantu pelaku pasar membaca pergerakan pasar dengan lebih baik dan mengidentifikasi peluang berikutnya.
Baca juga: Mitigasi Risiko Trading: Panduan untuk Investor
Secara keseluruhan, tren pasar 2026 menunjukkan ekonomi global berada di antara dua kekuatan utama: pertumbuhan berbasis teknologi dan guncangan energi akibat geopolitik. Dinamika ini turut memengaruhi pertumbuhan ekonomi, komoditas, kebijakan moneter, dan perdagangan.
Keseimbangan kedua faktor tersebut masih dapat berubah hingga akhir tahun. Karena itu, investor institusional, perusahaan pialang, dan trader ritel perlu memantau suku bunga, pergerakan logam mulia, serta pertumbuhan ekonomi global untuk menyusun strategi yang lebih terinformasi.